Zidam IV/Diponegoro Gandeng Arsitek Kebumen Susun Masterplan Mausoleum Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo

Menghidupkan Spirit Perjuangan Pangeran Diponegoro Melalui Arsitektur

Konsep Masterplan Astana Kesatria Indonesia Watugong Sebagai Kawasan Memorial, Edukasi, Budaya, Dan Spiritual

SEMARANG — Komando Zeni Daerah Militer IV/Diponegoro (Zidam IV/Diponegoro) mempercayakan Ir. Ar. Imam Muthoha, S.T., M.M., IAI, IPM, ASEAN Eng., Principal Architect WELL Architect, untuk menyusun konsep Masterplan Astana Kesatria Indonesia Watugong, sebuah kawasan mausoleum sekaligus memorial perjuangan yang didedikasikan bagi Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo.

Masterplan tersebut dirancang bukan sekadar sebagai kompleks pemakaman tokoh bangsa, tetapi sebagai kawasan yang mengintegrasikan fungsi memorial, edukasi sejarah, kebudayaan, spiritualitas, dan pariwisata. Melalui pendekatan arsitektur yang modern dengan akar kuat pada budaya Nusantara, kawasan ini diharapkan mampu menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan Perang Jawa (1825–1830) bagi generasi masa kini dan masa depan.

Mengusung slogan “Menggema dari Watugong, Membentuk Kesatria Nusantara”, konsep ini menghadirkan ruang kontemplasi sekaligus destinasi edukatif yang menghubungkan warisan sejarah dengan pembentukan karakter bangsa Indonesia.

Plaza Mataram Dalam Konsep Masterplan Mausoleum Pangeran Diponegoro Di Watugong

Menghidupkan Spirit Diponegoro Melalui Arsitektur

Menurut Imam Muthoha, konsep yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada penciptaan bangunan monumental, melainkan membangun sebuah narasi perjalanan spiritual yang dapat dirasakan setiap pengunjung.

Pengunjung diarahkan memasuki kawasan melalui gerbang utama, kemudian mengikuti perjalanan simbolik melewati plaza, sendhang, pendopo, hingga mencapai pusat kawasan yang merepresentasikan nilai kepahlawanan, pengabdian, keteladanan, dan perjuangan.

“Arsitektur tidak hanya menghadirkan bentuk fisik, tetapi juga menyampaikan pesan dan nilai. Setiap ruang dalam kawasan ini memiliki makna sehingga pengunjung tidak sekadar melihat bangunan, melainkan mengalami perjalanan batin yang merefleksikan perjuangan Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo,” ujar Imam Muthoha.

Empat Zona Utama Kawasan

Masterplan membagi kawasan Astana Kesatria Indonesia Watugong ke dalam empat zona yang saling terintegrasi.

Zona pertama merupakan kawasan penyambutan yang meliputi gerbang monumental, branding kawasan, plaza utama, Masjid Al-Aliy, serta ruang publik sebagai titik awal perjalanan pengunjung.

Zona kedua menjadi kawasan memorial utama yang menghadirkan Plaza Mataram, Patung Pangeran Diponegoro menunggang kuda putih sebagai ikon kawasan, Gapura Rahayu Ksatriatama, Pendopo Agung Kasatriyan, serta rangkaian ruang kontemplatif berupa sendhang dan jalur prosesi spiritual.

Zona ketiga dikembangkan sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan yang terdiri atas Pendopo Ksatria Pambudi, Pendopo Kuthawening, museum digital, perpustakaan, ruang pelatihan karakter, hingga Plataran Prabawa Ngaluhur sebagai ruang penyelenggaraan kegiatan budaya dan kebangsaan.

Sementara itu, zona keempat dirancang sebagai kawasan ketenangan jiwa yang mencakup Sasana Laras Jiwa, Griya Titi Laras, Langgar Mojo Roso, taman, ruang terbuka hijau, serta area meditasi yang memperkuat dimensi spiritual kawasan.

Mengangkat Filosofi Arsitektur Jawa-Islam

Secara arsitektural, kawasan ini mengadopsi karakter Mataram Islam melalui pendekatan kontemporer yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional.

Pendopo Agung dirancang menggunakan bentuk Joglo Hageng sebagai simbol kepemimpinan, kewibawaan, dan persatuan. Sementara itu, elemen-elemen seperti gapura bata ekspos, batu alam, sendhang, plaza, serta komposisi ruang terbuka disusun berdasarkan filosofi kosmologi Jawa yang dipadukan dengan nilai-nilai Islam.

Sebagai landmark utama kawasan, Patung Pangeran Diponegoro ditempatkan di pusat Plaza Mataram untuk merepresentasikan keberanian, keteguhan iman, dan semangat perjuangan melawan penjajahan.

Konsep Kawasan Astana Kesatria Indonesia Watugong Yang Dirancang Oleh Well Architect Untuk Zidam Iv/Diponegoro

Menjadi Pusat Memorial dan Pendidikan Karakter

Konsep Astana Kesatria Indonesia Watugong tidak berhenti sebagai kawasan memorial semata. Masterplan ini juga dirancang sebagai pusat literasi sejarah, pendidikan karakter, wisata budaya, wisata religi, sekaligus ruang pemberdayaan masyarakat.

Keberadaan museum digital, perpustakaan, pendopo budaya, area pertunjukan seni, ruang diskusi, dan kawasan hijau diharapkan mampu menarik generasi muda untuk mengenal kembali sejarah perjuangan bangsa melalui pengalaman ruang yang edukatif, inspiratif, dan berkesan.

Dengan pendekatan tersebut, kawasan ini diharapkan berkembang menjadi ikon nasional yang memadukan fungsi memorial, pendidikan, kebudayaan, spiritualitas, serta pariwisata dalam satu kesatuan kawasan yang utuh.

Kontribusi Arsitek Daerah untuk Karya Nasional

Penunjukan Ir. Ar. Imam Muthoha sebagai penyusun konsep masterplan menunjukkan bahwa arsitek daerah mampu memberikan kontribusi nyata pada proyek-proyek strategis yang memiliki nilai sejarah dan kebangsaan.

Sebagai Principal Architect WELL Architect, Imam dikenal melalui berbagai karya yang mengedepankan perpaduan arsitektur, budaya lokal, dan identitas kawasan. Melalui konsep Astana Kesatria Indonesia Watugong, pendekatan tersebut kembali diwujudkan dalam rancangan yang tidak hanya menampilkan kualitas estetika, tetapi juga menyampaikan pesan filosofis mengenai kepemimpinan, spiritualitas, nasionalisme, dan pengabdian kepada bangsa.

Apabila direalisasikan, Astana Kesatria Indonesia Watugong berpotensi menjadi salah satu kawasan memorial paling representatif di Indonesia sekaligus simbol penghormatan terhadap warisan perjuangan Pangeran Diponegoro dan Kyai Mojo, dua tokoh besar yang telah mengukir sejarah perjuangan bangsa. (ivs/WELL)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top