Arsitek Kebumen Ir. Imam Muthoha Dipercaya Merancang Revitalisasi Alun-Alun Hanggawana Slawi
SLAWI – Nama Ir. Imam Muthoha, Principal Architect WELL Arsitek, kembali menjadi perhatian setelah dipercaya Pemerintah Kabupaten Tegal untuk turut memberikan gagasan dan konsep dalam perencanaan revitalisasi Alun-Alun Hanggawana Slawi, yang diproyeksikan menjadi wajah baru sekaligus ikon kebanggaan Kabupaten Tegal.

Kepercayaan tersebut tidak datang tanpa alasan. Imam Muthoha merupakan arsitek yang berada di balik desain Alun-Alun Pancasila Kebumen, ruang publik yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu destinasi paling ramai di Jawa Tengah. Berkat konsep yang mengedepankan identitas lokal, fasilitas publik yang lengkap, ruang terbuka yang inklusif, serta pendekatan arsitektur berbasis budaya, alun-alun tersebut memperoleh perhatian luas dari masyarakat, bahkan kerap disebut sebagai salah satu alun-alun terbaik dan terlengkap fasilitasnya di Jawa Tengah. Keberhasilan itu menjadi salah satu referensi Pemerintah Kabupaten Tegal dalam menyusun arah pengembangan kawasan pusat kota Slawi.
Dalam agenda koordinasi yang berlangsung di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tegal, Imam Muthoha berdiskusi bersama jajaran Bapperida dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Tegal mengenai konsep awal penataan kawasan Alun-Alun Hanggawana. Selanjutnya, gagasan tersebut juga dipaparkan dalam pertemuan bersama jajaran pimpinan daerah, termasuk Wakil Bupati Tegal, sebagai bagian dari penyusunan visi pembangunan ruang publik yang lebih adaptif terhadap kebutuhan masyarakat.

Berbeda dengan pendekatan konvensional yang hanya berorientasi pada pembangunan fisik, Imam Muthoha menekankan bahwa alun-alun merupakan pusat peradaban kota yang harus mampu menjadi ruang bertemunya seluruh lapisan masyarakat.
“Alun-alun bukan sekadar taman kota. Ia adalah ruang tempat identitas daerah dibangun, budaya dipertemukan, ekonomi rakyat bergerak, dan masyarakat menciptakan kenangan bersama. Ketika ruang publik dirancang dengan baik, yang dibangun sesungguhnya adalah peradaban,” ungkap Imam Muthoha.

Konsep awal yang dipresentasikan mengusung tema “The Living Heritage of Slawi”, yakni menghadirkan alun-alun sebagai ruang publik yang tetap menjaga sejarah, budaya, dan karakter Kabupaten Tegal, namun mampu menjawab tantangan perkotaan modern.
Melalui pendekatan berbasis riset, konsep tersebut tidak hanya menawarkan wajah baru kawasan alun-alun, tetapi juga berupaya menyelesaikan berbagai persoalan perkotaan, mulai dari penataan pedagang kaki lima, parkir, kenyamanan pejalan kaki, ruang bagi anak muda, ruang bermain anak, hingga peningkatan kenyamanan termal kawasan.
Sejumlah gagasan inovatif yang diusulkan antara lain pembangunan landmark baru yang merepresentasikan identitas Tegal, kawasan ekonomi kreatif berbasis budaya moci, taman edukasi keluarga, ruang terbuka bagi lansia, sistem drainase berkelanjutan, hingga fasilitas multifungsi yang mampu mendukung aktivitas olahraga, seni, dan kegiatan masyarakat.
Bagi Imam Muthoha, keberhasilan sebuah ruang publik tidak hanya diukur dari kemegahan desainnya, tetapi dari seberapa besar ruang tersebut mampu digunakan, dicintai, dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pengalaman merancang Alun-Alun Pancasila Kebumen menjadi bekal penting dalam proses tersebut. Dalam berbagai kajian desainnya, ia menempatkan ruang publik sebagai media untuk memperkuat identitas daerah, membangun interaksi sosial, sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui desain yang humanis dan inklusif.
Pemerintah Kabupaten Tegal sendiri menargetkan revitalisasi Alun-Alun Hanggawana tidak hanya menghasilkan ruang publik yang lebih nyaman, tetapi juga mampu menjadi ikon baru Kabupaten Tegal, memperkuat identitas Kota Slawi, menggerakkan sektor ekonomi lokal, serta meningkatkan daya tarik wisata perkotaan.
Apabila seluruh tahapan perencanaan dapat diwujudkan, Alun-Alun Hanggawana diharapkan menjadi landmark baru Pantura, ruang publik yang bukan hanya indah secara visual, tetapi juga hidup, inklusif, dan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Kabupaten Tegal.
Dengan kolaborasi antara pemerintah daerah, para perencana, dan masyarakat, pembangunan Alun-Alun Hanggawana diharapkan menjadi contoh bagaimana ruang publik dapat bertransformasi menjadi pusat aktivitas sosial, budaya, ekonomi, sekaligus simbol kemajuan daerah di masa depan. (ivs/WELL)


